Monday, February 4, 2013

Hadits Qudsi



Kepada para sahabatnya, Rasulullah kadang-kadang memberikan nasehat-nasehat yang beliau terima dari Allah. Tetapi itu bukan merupakan wahyu yang kemudian disebut Al-Qur’an, dan bukan pula merupakan ucapan yang disandarkan secara langsung pada beliau yang kemudian layak disebut Hadits biasa begitu saja. Melainkan ia berupa hadits-hadits yang oleh Nabi lebih suka dinyatakan dengan ungkapan yang menunjukkannya sebagai firman Allah. Itulah Hadits Qudsi, yang juga disebut Ilaahiyyah (إِلَهِيَّةً) atau Rabbaniyyah (رَبَّانِيَّةً).

Contohnya ialah hadits yang dikeluarkan (di-takhrij-kan) oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Abu Dzar yang menerima dari Nabi apa yang beliau riwayatkan sebagai berasal dari Allah Ta’ala:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ. يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ. يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي. يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا. يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا. يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ. يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا. فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ

“Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku mengharamkannya pula atas kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. 

Wahai hamba-hambaKu, kalian semua tersesat, kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah itu kepada-Ku, niscaya kuberikan hidayah itu kepadamu. 


Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian lapar, kecuali orang-orang yang aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku berikan makanan itu kepadamu. 

Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian adalah orang-orang tidak berpakaian, kecuali orang-orang yang telah Kuberi pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku berikan pakaian itu kepadamu. 

Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian senantiasa berbuat dosa di malam dan siang hari sedangkan Aku akan mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian semua. 

Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian tidak dapat mendatangkan kemanfaatan bagi-Ku sehingga tidak sedikit pun kalian bermanfaat bagi-Ku. 

Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian semua tidak akan dapat mendatangkan bahaya bagi-Ku sehingga tidak sedikit pun kalian dapat membahayakan-Ku. 

Wahai hamba-hambaKu, andaikan kalian semua dari yang awal sampai yang terakhir, baik dari bangsa manusia maupun jin, semuanya bertakwa dengan ketakwaan orang yang paling takwa di antara kalian, hal itu tidak menambah sedikit pun dalam Kerajaan-Ku. 

Wahai hamba-hambaKu, andaikan kalian semua dari yang awal sampai yang terakhir, baik dari bangsa manusia maupun bangsa jin, berdiri di atas satu dataran lalu meminta apa pun kepada-Ku, lalu aku penuhi semua permintaan mereka, hal itu sedikit pun tidak mengurangi kekayaan yang Aku miliki, hanya seperti berkurangnya air samudra ketika dimasuki sebatang jarum jahit (kemudian diangkat). 

Wahai hamba-hambaKu, semua itu perbuatan kalian yang Aku hitungkan untuk kalian, kemudian Aku membalasnya kepada kalian. Maka barang siapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Alloh, dan barang siapa mendapatkan selain itu, hendaklah ia tidak mencela kecuali dirinya sendirinya.”[1]

Kalimat yang biasa digunakan untuk meriwayatkan Hadits Qudsi, adalah:

قَالَ رَسُولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِيمَا يَرْوِيهِ عَنْ رَبِّهِ

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda meriwayatkan apa yang beliau terima dari Rabb-nya.”

Ini merupakan kalimat yang lazim dipakai oleh salaf (orang-orang terdahulu) dalam meriwayatkan Hadits Qudsi. Sedangkan khalaf (orang-orang belakangan) mempunyai cara tersendiri dalam meriwayatkan Hadits Qudsi, yaitu:

قَالَ اللهُ تَعَالَى، فِيمَا رَوَاهُ عَنْهُ رَسُولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Allah Ta’ala berfirman, sebagaimana yang telah diceritakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”

Tetapi keduanya bertujuan sama. Hanya sekadar perbedaan istilah saja.

Cerita Nabi dari Rabb-nya dalam hadits-hadits Qudsi semacam ini oleh para ulama digunakan sebagai hujjah seraya menyatakan: “Lafadz Hadits Qudsi itu berasal dari Allah Ta’ala”. Namun banyak para ulama yang berbeda pendapat bahwa kalimat-kalimat Hadits Qudsi itu dari Nabi sedangkan maknanya dari Allah. Pendapat yang terakhir inilah yang dipilih oleh Abu Al-Baqa’ ketika dengan jelas mengatakan: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu lafadz dan maknanya dari sisi Allah melalui wahyu yang jelas. Adapun Hadits Qudsi, lafadznya dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedangkan maknanya dari Allah lewat ilham atau mimpi.”[2]




[1] H.R. Muslim
[2] Kulliyyaat Abil Baqa, hal. 288

------------------------------------


dari Kitab علوم الحديث ومصطلحه - عرضٌ ودراسة karya Subhy Ash-Shaalih, dengan bantuan terjemah kitab Membahas Ilmu-ilmu Hadits

ditulis dan ditata ulang oleh Hasan Al-Jaizy


No comments:

Post a Comment