Thursday, March 7, 2013

Kisah Pengangkatan Muhammad Sebagai Rasulullah



Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah berusia 40 tahun, Allah mengutusnya menjadi rasul-Nya sebagai rahmat bagi sekalian alam yang diutus kepada segenap umat manusia dan sebagai pembawa kabar gembira. Sebelumnya Allah Ta’ala telah mengambil perjanjian dari tiap-tiap rasul yang diutus sebelum beliau agar beriman kepada beliau dan membenarkannya, membelanya terhadap siapa saja yang menentangnya. Allah juga telah memerintahkan mereka supaya menyampaikannya kepada setiap orang yang beriman dan membenarkan mereka. Lalu mereka pun menyampaikan kebenaran yang mereka ketahui tentang rasul akhir zaman itu kepada umat manusia.
 

Aisyah radhiyallahu anha meriwayatkan: “Perkara pertama yang memulai turunnya nubuwat kepada Rasulullah ketika Allah hendak memuliakan beliau dan mencurhkan rahmat-Nya kepada para hamba adalah mimpi yang benar. Setiap kali bermimpi, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihatnya laksana cahaya fajar merekah. Allah membuatnya senang ber-khalwat (menyendiri melakukan ibadah). Tidak ada perkara yang paling beliau sukai melainkan khalwat tersebut.”

Abdullah bin Ubaidullah meriwayatkan: “Ketika Allah hendak menurunkan kemuliaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan memulai penobatannya sebagai utusan Allah, beliau selalu keluar menjauh dari rumah-rumah penduduk, beliau pergi menuju lembah-lembah kota Mekkah. Setiap kali Rasulullah berpapasan dengan batu dan pohon, pasti batu dan pohon itu mengucapkan salam kepada beliau, “Assalamualaika ya Rasuulallaah!” Rasulullah menoleh ke kanan, ke kiri dan ke belakang namun beliau tidak melihat apapun kecuali bebatuan dan pepohonan. Beliau shallallahu alihi wa sallam tinggal di gua tempat khalwat dan mendengar serta melihat banyak perkara. Kemudian datanglah malaikat Jibril dengan membawa karamah dari Allah Ta’ala. Kala itu beliau sedang ber-khalwat di gua Hira pada bulan Ramadhan.

Ubaid bin Umair menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  menyendiri ke gua Hira sebulan setiap tahun. Gua itu biasa dipakai oleh orang-orang Quraisy untuk ber-tahannuts pada zaman Jahiliyyah. Tahannuts adalah beribadah dengan menjauhkan diri dari berhala-berhala. Beliau biasa ber-tahannuts pada bulan Ramadhan, memberi makan fakir miskin yang datang menjenguk beliau. Apabila beliau telah merampungkan tahannuts pada bulan itu maka hal pertama yang dilakukannya adalah mendatangi Ka’bah. Beliau melakukan thawaf sebanyak 7 kali atau semampu beliau. Barulah beliau pulang ke rumah. Hingga pada bulan yang telah ditentukan Allah sebagai waktu menurunkan karamah kepada beliau, tahun yang telah Allah pilih sebagai waktu penobatannya sebagai rasul, yaitu bulan Ramadhan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam keluar menuju gua Hira sebagaimana biasanya diiringi oleh keluarganya. Tepat pada malam yang telah Allah muliakan dengan risalah-Nya, datanglah Malaikat Jibril alaihissalam dengan membawa perintah Allah!

Rasulullah menuturkan: “Datanglah kepadaku Malaikat Jibril kala itu aku sedang tidur beralaskan tikar dari dibaj (sutera) di dalamnya terdapat kitab. Jibril berkata, “Bacalah!”

“Aku tak bisa membaca!” jawabku. Jibril mendekapku sehingga aku menyangka ajalku tiba! Lalu ia melepasku. Jibril berkata lagi, “Bacalah!”

“Aku tak bisa membaca!” jawabku lagi. Ia mendekapku sekali lagi sehingga aku menyangka ajalku tiba! Lalu ia melepasku. Jibril berkata lagi, “Bacalah!”

“Aku tak bisa membaca!” jawabku lagi. Ia mendekapku sekali lagi sehingga aku menyangka ajalku tiba! Lalu ia melepasku. Jibril berkata lagi, “Bacalah!”

“Apa yang harus aku baca?” jawabku lagi.

Jibril berkata:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Aku pun membacanya sampai selesai, lalu ia berpaling dariku. Lalu aku terbangun dari tidurku dan kudapati seolah-olah di hatiku telah tertulis sebuah tulisan.

Aku pun keluar hingga ketika tiba di pertengahan bukit aku mendengar suara dari langit yang berseru, “Wahai Muhammad, engkau adalah Rasulullah dan aku adalah Jibril!” Kulihat ternyata Jibril menjelma dalam bentuk lelaki yang putih bersih kedua telapak kakinya di ufuk langit. Ia berseru, “Wahai Muhammad, engkau adalah Rasulullah dan aku adalah Jibril!” Aku berhenti melihatnya tanpa bergeming sedikitpun dari tempatku. Aku berusaha memalingkan wajah darinya ke arah ufuk lainnya, tetapi aku tetap melihatnya di setiap ufuk. Sementara aku tetap di tempat tidak bergeming sedikitpun. Sehingga Khadijah mengutus beberapa orang untuk mencariku. Mereka telah mencapai puncak gunung namun tidak melihatku. Akhirnya mereka pun kembali sementara aku tetap berada di tempatku. Kemudian Jibril berpaling dariku.

Setelah itu aku pun kembali ke rumah dan segera menemui Khadijah. Aku bersandar di pangkuannya. Ia berkata padaku, “Wahai Abul Qasim, dimanakah gerangan Anda tadi? Demi Allah, aku telah mengutus orang untuk mencarimu, mereka telah berkeliling kota Mekkah kemudian kembali tanpa menemuimu!”

Aku pun menceritakan peristiwa yang kusaksikan tadi. Ia berkata, “Sambutlah kabar gembira wahai anak pamanku, teguhkanlah dirimu! Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya, aku berharap engkau terpilih menjadi nabi umat ini!”

Lalu Khadijah mengenakan pakaiannya dan berangkat menemui Waraqah bin Naufal yang masih sepupunya. Waraqah adalah seorang pemeluk agama Nasrani dan banyak membaca kitab-kitab. Ia juga banyak mendengar dari Ahli Taurat dan Injil. Khadijah menceritakan apa yang didengar dan dilihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Waraqah berkata: “Quddus...Quddus...Demi Dzat yang jiwa Waraqah berada di tangan-Nya, jika benar apa yang engkau ceritakan itu wahai Khadijah, itulah Namus Al-Akhbar yang dahulunya menemui Nabi Musa. Sungguh ia bakal menjadi Nabi umat ini, katakanlah ia agar tetap teguh.”

Khadijah radhiyallahu anha kembali menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan apa yang dikatakan oleh Waraqah tadi. Ketika Rasulullah telah menyelesaikan ibadahnya di gua tersebut beliau segera kembali dan mengerjakan apa yang biasa beliau kerjakan, yaitu melakukan thawaf di Ka’bah.

Waraqah mencegahnya dan berkata, “Wahai saudarku, ceritakanlah padaku apa yang engkau lihat dan engkau dengar!” Rasulullah pun menceritakan pengalamannya. Waraqah kemudian berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, engkau telah terpilih menjadi nabi umat ini, Namus Al-Akbar yang dahulu datang kepada Musa telah datang menemuimu! Engkau akan ditentang, dimusuhi, diusir dan akan diperangi. Sekiranya aku masih hidup kala itu, niscaya aku akan sungguh-sungguh menolongmu.” Kemudian ia cium kening Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Setelah itu, Rasulullah pun pergi ke rumahnya.





Sumber: Tahdzib Sirah Nabawiyyah li Ibn Hisyaam, Abd As-Salam Harun
Penerjemah: Abu Ihsan Al-Atsary, cet. Darul Haq

No comments:

Post a Comment

Post a Comment