Sunday, February 3, 2013

Apakah Hadits Adalah Sunnah? (Part One)


Kalau kita memakai pendapat yang dominan di kalangan Ahli Hadits, terutama dari angkatan baru (المتأخرون), maka kita akan tahu bahwa sesungguhnya Hadits dan Sunnah itu memiliki pengertian yang sama. Keduanya bisa digunakan satu sama lain. Masing-masing (Hadits atau Sunnah) berkaitan dengan ucapan, perbuatan, atau penetapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Namun, jika keduanya dikembalikan kepada asal-usul kesejarahannya, ternyata terdapat sedikit perbedaan antara keduanya dalam penggunaan, baik dari segi bahasa maupun istilah.

Hadits –sebagaimana tinjauan Abdul Baqa’- adalah ism (kata benda) dari at-tahdiits (التَّحْدِيثِ) yang berarti pembicaraan. Kemudian didefinisikan sebagai ucapan, perbuatan atau penetapan yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.[1] Arti “pembicaraan” ini telah dikenal oleh masyarakat Arab di zaman Jahiliyyah sejak mereka menyatakan “hari-hari mereka yang terkenal” dengan sebutan ahaadiits (لأحاديث).[2] Barangkali Al-Farraa’ telah memahami arti ini ketika berpendapat bahwa mufrad (bentuk singular) kata ahaadiits adalah uhduutsah (أُحْدُوثَةٌ). Lalu kata ahaadiits itu dijadikan jamak dari kata Hadits.[3]

Dari sini, populer ungkapan shaara uhduutsah (صَارَ أُحْدُوثَةً) dan shaara hadiitsan (صَارَ حَدِيثًا) yang berarti ‘dia menjadi buah pembicaraan’, jika dia dijadikan pepatah. Penyair Abu Kildah menggunakan kata matsal (pepatah) dan uhduutsah dalam sebaris puisinya, seolah-olah menunjukkan kesamaan arti keduanya:


وَلاَ تُصْبِحُوا أُحْدُوثَةً مِثْلَ قَائِلٍ ... بِهِ يَضْرِبُ الأَمْثَالَ مَنْ يَتَمَثَّلُ

Janganlah menjadi buah pembicaraan seperti pembicara
Yang dijadikan pepatah oleh mereka yang berpepatah[4]

Betapapun materi Hadits diubah-ubah, kita selalu dapat menemukan arti “pembicaraan” secara jeas di dalamnya, termasuk dalam firman Allah Ta’ala:

فَلْيَأْتُوا۟ بِحَدِيثٍۢ مِّثْلِهِۦٓ

“Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Qur'an itu”[5]

Dan firman Allah:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya)”[6]

Ada sejumlah ulama yang merasakan adanya arti “baru” dalam kata Hadits lalu mereka menggunakannya sebagai lawan kata qadiim (lama), dengan memaksudkan qadiim sebagai Kitab Allah, sedangkan yang “baru” ialah apa yang disandarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dalam Syarah Al-Bukhary, Syaikhul Islam Ibnu Hajar berkata,

المُرَادُ بِالْحَدِيثِ فِي عُرْفِ الشَّرْعِ: مَا يُضَافُ إِلَى النَّبِيِّ - صَلََّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَكَأَنَّهُ أُرِيدَ بِهِ مُقَابَلَةُ الْقُرْآنِ لأَنَّهُ قَدِيمٌ

“Yang dimaksud dengan Hadits menurut pengertian syara’ adalah apa yang disandarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dan hal itu seakan-akan dimaksudkan sebagai bandingan Al-Qur’an adalah qadiim.”[7]

Ini menerangkan dengan sangat jelas kepada kita akan keengganan sebagian besar ulama menggunakan nama Hadits untuk Kitab Allah, atau mengganti “Kalam Allah” dengan “Hadits Allah”. Bahkan dalam Sunan Ibnu Majah terdapat sebuah riwayat Hadits Nabi yang nyaris memastikan keharusan sikap dan tata krama tersebut. Bersumber dari Abdullah bin Mas’ud, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا هُمَا اثْنَتَانِ: الْكَلاَمُ وَالْهَدْيُ. فَأَحْسَنُ الْكَلاَمِ كَلاَمُ اللَّهِ، وَأَحْسَنُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ

“Sesungguhnya hanya ada dua: kalam dan petunjuak. Sebaik-baik Kalam adalah Kalam Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad.”[8]

Kalau kita menjumpai dalam kebanyakan kitab Sunan, ada ungkapan:

إِنَّ أَحْسَنَ الحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ

“Sesungguhnya sebaik-baik hadits (perkataan) adalah kitab Allah.”

Lalu kita menemukan Ibnu Majah sendiri meriwayatkan “Sebaik-baik kalam…”, maka tahulah kita bahwa tidak mustahil wara’ (sikap menghindar dan tata krama) itulah yang mendorongnya memilih ungkapan tersebut. Sedikitnya dasar pegangan kita untuk itu adalah bahwa di kalangan ulama ada orang yang merasa berat menggunakan kata Hadits untuk Kitab Allah yang qadiim.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri menamakan sabdanya sebagai Hadits. Dan agaknya dengan penamaan itu beliau membedakan apa yang disandarkan kepada beliau dengan yang lainnya, sehingga seakan-akan beliaulah yang meletakkan dasar-dasar bagi penamaan Hadits selanjutnya.

Suatu hari, Abu Hurairah datang kepada beliau untuk menanyakan tentang orang yang paling berbahagia memperoleh syafaat beliau pada hari kiamat kelak. Beliau waktu itu menyatakan bahwa beliau tahu tak seorang pun pernah menanyakan Hadits (pembcaraan) ini sebelum Abu Hurairah. Itu adalah karena antusiasmenya dalam mencari Hadits.[9]

bersambung....




[1] Kulliyyat Abil Baqa’, hal. 152
Abul Baqa’ adalah Ayyub bin Musa Al-Husainy Al-Quramy Al-Kufawy. Dia seorang qadhi’ bermadzhab Hanafy di Quds. Wafat tahun 1093 H.
[2] Futuuh Al-Buldaan,  Al-Baladziry, hal. 29
[3] Qawaaid At-Tahdiits, hal. 35
[4] Al-Aghaany, 21/150; 10/120
[5] Q.S. Ath-Thuur: 34
[6] Q.S. Az-Zumar: 23
[7] At-Tadriib, hal. 4
[8] Ibnu Majah, no. 46
[9] Al-Bukhary, Kitab Ar-Raqaaq, no. 51

dari Kitab علوم الحديث ومصطلحه - عرضٌ ودراسة karya Subhy Ash-Shaalih, dengan bantuan terjemah kitab Membahas Ilmu-ilmu Hadits

ditulis dan ditata ulang oleh Hasan Al-Jaizy

No comments:

Post a Comment