Ketika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam berusia 35 tahun, orang-orang Quraisy sepakat untuk merenovasi
Ka’bah. Sebab Ka’bah itu berupa susunan batu-batu, lebih tinggi dari badan
manusia, tepatnya sembilan hasta yang dibangun sejak masa Isma’il, tanpa ada
atapnya, sehingga banyak pencuri yang suka mengambil barang-barang berharga
yang tersimpan di dalamnya. Dengan kondisi seperti itu, bangunan Ka’bah semakin
rapuh dan dingingnya pun sudah pecah-pecah. Lima tahun sebelum kenabian, Makkah
dilanda banjir besar hingga meluap ke Baitul Haram, sehingga sewaktu-waktu bisa
mmebuat Ka’bah menjadi runtuh. Sementara itu, orang-orang Quraisy dihinggapi
perasaan bimbang antara merenovasi Ka’bah dan membiarkannya seperti apa adanya.
Namun akhirnya mereka sepakat untuk tidak memasukkan bahan-bahan bangunan
kecuali yang baik-baik. Mereka tidak menerima masukan dari maskawin para pelacur,
jual beli dengan sistem riba dan perampasan terhadap harta orang lain. Sekalipun
begitu mereka merasa takut untuk merobohkannya. Akhirnya Al-Walid bin
Al-Mughirah Al-Makhzumy mengawali perobohan bangunan Ka’bah, lalu diikuti
semua orang, setelah tahu tidak ada sesuatu pun yang menimpa Al-Walid. Mereka
terus bekerja merobohkan setiap bangunan Ka’bah, hingga sampai rukun Ibrahim.
Setelah itu mereka siap membangunnya kembali.
"Sesungguhnya sanad itu termasuk dari agama. Seandainya tiada sanad, niscaya siapapun hendak berbicara apapun sekehendaknya." [Ibn Al-Mubarak] - Blog ini dikelola oleh Hasan Al-Jaizy, yang hanyalah sebagai ajang mendayakan upaya dan mengupayakan daya.. Semoga bermanfaat bagi pelajar ilmu Hadits dan Tarikh yang hendak memanfaatkannya.
Showing posts with label TARIKH - SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label TARIKH - SEJARAH. Show all posts
Saturday, March 16, 2013
Saturday, March 2, 2013
Penyerangan Bani Hanifah dan Perang Yamamah Pada Masa Abu Bakr
Abu Bakr radhiyallahu anh mengutus Khalid
bin Al-Walid radhiyallahu anh ke daerah Yamamah untuk menyerang Bani
Hanifah. Sebelumnya, sang Khalifah mengutus pasukan Ikrimah bin Abu Jahl dan
Surahbil bin Hasanah radhiyallahu anhuma ke tempat yang sama. Pasukan
Bani Hanifah berjumlah 4.000 personil. Ketika tiba dan bergabung bersama dua
pasukan pendahulu, Khalid bin Al-Walid segera menempatkan Syurahbil bin Hasanah
di barisan terdepan, Zaid bin Al-Khaththab radhiyallahu anh di sayap
kanan, dan Abu Hudzaifah radhiyallahu anh di sayap kiri.
Kaum Muslimin terus bergerak maju, hingga Khalid radhiyallahu
anh dan mereka berada di suatu bukit yang tinggi di Yamamah. Khalid
kemudian mendirikan tenda di situ. Bendera kaum Muhajirin dipegang oleh Salim radhiyallahu
anh, bekas budak Abu Hudzaifah radhiyallahu anh, sedangkan bendera
kaum Anshar dipegang oleh Tsabit bin Qais radhiyallahu anh.
Peperangan pun berlangsung begitu sengit;
sampai-sampai Tsabit bin Qais melubangi tanah setinggi separuh betis sebagai
tempat berpijak kedua kakinya, setelah sebelumnya dia memakai minyak wangi dan
mengenakan kain kafan. Saat itu, Tsabit tetap okoh berdiri hingga gugur sebagai
syahid. Di tempat lain, salah seorang kaum Muhajirin bertanya kepada Salim: “Takutkah
engkau jika kita diserang dari arah sini?” Pertanyaan ini dijawab, “Jika benar
aku merasa takut, maka akulah penghafal Al-Qur’an yang terburuk.”
Khalid bin Al-Walid radhiyallahu anh terus
menyerang hingga mendesak pasukan musuh, kemudian kembali bergabung dengan
pasukan Muslim lainnya. Setelah itu, dia berdiri di antara dua pasukan dan
mengajak mereka bertarung satu lawan satu. Setiap orang yang maju melawan
Khalid saat itu terbunuh. Lalu di tengah peperangan yang semakin berkecamuk,
Khalid memecah kaum Muhajirin, kaum Anshar, dan orang-orang Badui, lantas
menjadikan setiap kabilah di bawah satu bendera, sehingga mereka tahu dari mana
mereka akan diserang. Ketika itu, kaum Muslimin menghadapi perang dahsyat ini
dengan kesabaran yang luar biasa.
Munculnya Sijah, Wanita Yang Mengklaim Sebagai Nabi
Di masa kekhalifahan Abu Bakr radhiyallahu anh,
terjadi perbedaan sikap di kalangan Bani Tamim. Hal ini tepatnya pada masa-masa
kemurtadan. Di antara mereka ada yang memang keluar dari agama Islam, ada yang
hanya enggan membayar zakat, ada yang tetap memeluk Islam, dan ada pula yang
ragu-ragu. Ketika itulah Sijah binti Al-Harits At-Taghlibiyyah, seorang Nashrani Arab, datang
dan mengklaim dirinya sebagai Nabi. Dia diikuti oleh bala tentara dari kaumnya
dan sekutu mereka. Dengan pasukan tersebut, Sijah bertekad menyerbu Madinah.
Dan ketika melewati negeri Bani Tamim, dia mengajar mereka untuk mengikutinya,
dan mayoritasnya menyambut seruan itu. Sijah mengadakan perjanjian dengan
mereka untuk tidak melakukan peperangan di antara sesama mereka.
Malik bin Nuwairah membelokkan tekad Sijah dari
menyerang Madinah. Malik mengajaknya untuk menyerang Bani Yarbu’ dan kabilah
lainnya, serta meminta Sijah supaya menunda penyerangan terhadap Madinah.
Kemudian Sijah dan bala tentaranya bermaksud merebut Yamamah dari Musailamah
sang pendusta. Mendengar keberangkatan pasukan Sijah, Musailamah takut karena
ketika itu pasukannya sedang disibukkan oleh peperangan melawan kaum Muslimin.
Perang kecil ini terjadi di antara mereka sebelum
Perang Yamamah berkecamuk. Maka, Musailamah mengutus seseorang untuk mengadakan
perjanjian dengan Sijah. Lalu perjanjian dibuat dengan imbalan setengah tanah
kekuasaan Musailamah akan diberikan kepada Sijah.
Setelah itu, Musailamah mengutus seseorang sebagai
perantara untuk meminta Sijah menikah dengannya. Musailamah berkata, “Izinkanlah
aku menikahimu. Dengan begitu, aku dapat menguasai seluruh Jazirah Arab dengan
gabungan kekuatan kaumku dan kaummu.” Sijah menjawab, “Ya”. Namun, ketika
mendengar kedatangan pasukan Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid radhiyallahu
anh, Sijah bergegas kembali ke negerinya dan menetap di Bani Taghlib. Ada
juga yang mengatakan, dia kembali memeluk Islam karenanya. (Al-Bidayah Wa
An-Nihayah, VI/324)
Sumber: Hiqbah Min At-Taariikh,
Syaikh Dr. Utsman Al-Khamiis
Dibantu dengan terjemahan oleh
Syafaruddin, Lc.
Diketik ulang oleh Hasan Al-Jaizy
Al-Aswad Al-Ansi, Si Nabi Palsu
Al-Aswad Al-Ansi, orang yang juga dikenal dengan
nama Abhalah bin Ka’ab ini mengaku dirinya sebagai Nabi dan keluar
bersama 700 pasukan pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Pasukan itu pergi ke Shan’a dan menaklukkannya, sampai seluruh negeri Yaman
tunduk kepada mereka. Kejahatan Al-Aswad menyebar laksana api yang menjadlar,
hingga masalahnya menjadi pelik dan sulit. Banyak penduduk Yaman keluar dari
agama Islam karenanya. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat,
perilakunya tersebut belum berubah.
Pada masa kekhalifahan Abu Bakr radhiyallahu
anh, Fairuz Ad-Dailamy radhiyallahu anh membunuhnya. Ketika itu,
Al-Aswadh sedang tidur dalam keadaan mabuk. Fairuz menyabet Nabi palsu ini
dengan pedang sehingga suaranya melengking sekeras kuakan sapi yang pernah
didengar manusia. Mendengar suara nyaring tersebut, para penjaga bersegera
menuju ke kamarnya. Lantas mereka bertanya-tanya, “Ada apa ini? Apa yang
terjadi?” Istri Al-Aswad –seorang wanita shalihah- menjawab: “Nabi sedang
menerima wahyu.” Maka, mereka pun kembali.
Kemudian kaum Muslimin dan kaum Musyrikin yang
tidak mengikuti ajaran Al-Aswad berkumpul di sekitar benteng tempatnya berada.
Lalu, salah seorang kaum Muslimin berseru, “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
Rasulullah dan Abhalah (Al-Aswad Al-Ansi) adalah pendusta!” Orang itu lantas
melemparkan kepala Abhalah ke arah orang-orang di situ. Maka, para pengikut
Al-Aswad pun bercerai-berai, bahkan mereka dikejar masyarakat seraya dipukuli
di setiap jalan. (Al-Bidayah wa An-Nihayah (VI/315)
Sumber: Hiqbah Min At-Taariikh,
Syaikh Dr. Utsman Al-Khamiis
Dibantu dengan terjemahan oleh
Syafaruddin, Lc.
Diketik ulang oleh Hasan Al-Jaizy
Friday, February 8, 2013
Abu Bakar dan Wafatnya Rasulullah
Ketika kabar wafatnya
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu
anh baru datang dari Sanh, sebuah daerah dekat Madinah dan di tempat itulah
istri Abu Bakar radhiyallahu anh, Habibah binti Kharijah tinggal.
Kemudian, ia membuka penutup wajah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
dan mencium kening beliau seraya berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan,
engkau adalah orang suci baik ketika masih hidup maupun setelah wafat.”
Abu Bakar menutup wajah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian berdiri dan naik ke
atas mimbar, lalu menyadarkan orang-orang:
مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ
مَاتَ، وَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ اللهَ فَإِنَّ اللهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ
“Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka
ketahuilah bahwasanya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa di antara
kalian yang menyembah Allah, maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Hidup,
takkan pernah mati.”
Lalu, ia membacakan firman
Allah:
Wednesday, February 6, 2013
Peristiwa Penggalian Sumur Zamzam
Ketika Abdul Muththalib (kakek Nabi Muhammad) tidur di
Hijir Ismail, ia bermimpi diperintah untuk menggali sumur Zamzam. Abdul
Muththalib menuturkan kisahnya. Begini kisahnya:
“Ketika aku sedang tidur di Hijir Ismail, tiba-tiba dalam
mimpi aku didatangi oleh seseorang dan berkata kepadaku: “Galilah Thiibah!”
“Apa itu Thiibah?” kataku. Kemudian orang itu menghilang!
Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat semula. Dalm
tidur aku kembali bermimpi didatangi seseorang dan berkata, “Galilah Madhhuunah!”
“Apa itu Madhuunah?” kataku. Ornag itu kembali
menghilang.
Esoknya aku kembali tidur di situ. Dalam tidur aku bermimpi
seperti malam kemarin. Seseorang datang kepadaku dan berkata, “Galilah Zamzam!”
“Apa itu Zamzam?” kataku.
“Yaitu sumur yang tiada terkuras habis dan tiada mengering,
memberi minum para jama’ah haji yang datang berduyun-duyun. Letaknya di antara kotoran
dan tanah[1],
dekat patukan gagak a’sham[2],”sahutnya.
Cara Sejarawan Mendistorsi Sejarah
Cara Sejarawan Mendistorsi Sejarah
Berikut akan saya kemukakan beberapa cara
atau metode yang digunakan para sejarawan dalam mendistorsi peristiwa-peristiwa
penting seputar sejarah umat Islam.
1. Membuat-buat Cerita dan
Berbohong
Para sejarawan mengarang kisah yang
sebenarnya tidak pernah terjadi. Contohnya, mereka menceritakan perihal Aisyah radhiyallahu
anha yang bersujud syukur kepada Allah Ta’ala ketika menerima kabar
tentang terbunuhnya Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anh. Penuturan
peristiwa ini bohong belaka.[1]
2. Menambah atau Mengurangi
Suatu Kisah
Yang berbeda dalam hal ini adalah kisah
yang disampaikan sahih, seperti peristiwa Saqifah. Cerita tentang Saqifah ini
memang benar: Bahwasanya terjadi pertemuan antara Abu Bakr, Umar, dan Abu
Ubaidah dari kalangan Muhajirin di satu sisi; dan Al-hubab bin Al-Mundzir, Sa’ad
bin Ubadah, serta sahabat dari kalangan Anshar lainnya di sisi yang lain. Para
sejarawan menambahkan atau mengurangi banyak hal dengan tujuan mendistorsi
kejadian yang sebenarnya.
3. Menginterpretasi Suatu
Kejadian secara Tidak Benar
Tuesday, February 5, 2013
Kitab Induk Sejarah: TAARIIKH ATH-THABARY
Taariikh
Ath-Thabary adalah
kitab terpenting dalam sejarah Islam. Sering sekali penulis sejarah mengutip
berbagai peristiwa darinya. Ahlus Sunnah dan Ahli Bid’ah mengutip dan berdalil
dengan kitab ini. Lantas, mengapa kitab ini lebih didahulukan daripada
kitab-kitab sejarah lainnya?
Menurut
saya (Syaikh Utsmaan Al-Khamiis), didahulukannya kitab tersebut didasarkan pada
fakta-fakta berikut:
1.
Dekatnya zaman penyusunnya, yaitu Imam Ath-Thabary, dengan peristiwa-peristiwa
yang dialami oleh para sahabat.
2.
Penyusun meriwayatkan semuanya dengan sanad.
3.
Kemuliaan penyusun dan tingkat keilmuannya
4.
Mayoritas kitab sejarah mengutip riwayat-riwayat darinya.
Jika
kandungan kitab Taariikh Ath-Thabary demikian unggul, maka kita bisa
saja langsung merujuk pada kitab beliau ketika ingin membaca sejarah tanpa melihat
kitab-kitab sejarah lin yang menginduk kepadanya. Akan tetapi, tidak hanya
Ahlus Sunnah yang merujuk pada kitab tersebut, tetapi juga para ahli bid’ah
yang mengambil apa-apa yang sesuai dengan madzhab mereka. Nah,
bagaimanakah sebaiknya menyikapi dua hal yang berlawanan itu? Jawabannya masih
terkait dengan keistimewaan kitab sejarah ini, yakni semua peristiwa sejarah
yang dinukilkan di dalamnya disertai sanad; jadi kalangan Ahlus Sunnah
mengambil sanad Ath-Thabary yang sahih saja, sedangkan ahli bid’ah mengambil
semua riwayat baik yang sahih, yang baik, maupun yang buruk, yang penting
sesuai dengan hawa nafsu mereka.
Sumber:
Hiqbah Min At-Taariikh, Syaikh Dr. Utsman Al-Khamiis
Dibantu
dengan terjemahan oleh Syafaruddin, Lc.
Ditulis
dan ditata ulang oleh Hasan Al-Jaizy
Kitab Sejarah Yang Layaknya Dibaca
Kitab
sejarah siapa yang sebaiknya dibaca?
Jawabannya
adalah jika Anda mampu menganalisa sanad dan menelitinya, maka bacalah kitab
Imam Ath-Thabary (Taariikh Ath-Thabary). Kitab beliau ini adalah
pegangan bagi para ulama yang menulis kitab sejarah.
Sedangkan
jika Anda tidak mampu menganalisa dan meneliti sanad, maka bacalah:
(1) kitab
Al-Hafizh Ibnu Katsiir, Al-Bidaayah wa An-Nihaayah (الْبِدَايَةُ وَالنِّهَايَةُ)
(2) kitab Al-Hafizh Adz-Dzahaby, Taariikh Al-Islaam (تَارِيخُ الْإِسْلَامِ)
(3) kitab Al-Allaamah Abu Bakr Ibnul Araby, Al-Awaashim min Al-Qawaashim
(الْعَوَاصِمُ مِنَ الْقَوَاصِمِ), yakni kitab
terbaik di antara kitab-kitab lainnya yang membahas periode sejarah pasca
wafatnya Nabi hingga terbunuhnya AL-Husain.
Di
antara kitab-kitab atau buku-buku sejarah lain yang bermanfaat dan ringkas
namun bernas, adalah:
Kitab-kitab Sejarah Yang Perlu Diwaspadai!
Berikut
beberapa kitab sejarah yang harus diwaspadai:
1.
Al-Aghaany (الْأَغَانِي) karya Abu
Al-Faraj Al-Ashbahaany. Kitab ini berisi obrolan, syair, dan nyanyian yang
dicampuri berita-berita tidak benar.
2.
Al-Iqd Al-Fariid (الْعِقْدُ الْفَرِيدُ) karya Ibnu Abdi
Rabbih. Kitab sastra ini banyak memuat nukilan-nukilan palsu.
3.
Al-Imaamah wa As-Siyaasah (الْإِمَامَةُ وَالسِّيَاسَةُ)
yang dinisbatkan kepada Ibnu Qutaibah rahimahullah, tetapi penisbatan
ini adalah dusta belaka.
4.
Muruuj Adz-Dzahab (مُرُوجُ الذَّهَبِ) atau Taariikh
Al-Mas’uudy karya Al-Mas’udy. Kisah-kisah yang dituturkan di dalam kitab
ini tidak bersanad. Ibnu Taimiyyah rahimahullah bahkan mengomentarinya: “Dalam
kitab Taariikh Al-Mas’uudy terdapat banyak kebohongan. Saking banyaknya,
sampai-sampai tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah Ta’ala.
Bagaimana mungkin riwayat dengan sanad terputus dalam sebuah kitab yang
terkenal banyak dustanya itu bisa dipercaya?!”[1]
Al-Haafidz
Ibnu Hajar Al-Asqalaany juga berkomentar:
Bagaimana Kita Membaca Sejarah?
Kita
harus membaca sejarah seperti halnya membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam. Tatkala hendak membaca hadits-hadits beliau, tentu saja
kita mengklarifikasi riwayatnya terlebih dahulu; apakah sanadnya sahih, atau
tidak? Tidak mungkin riwayat dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
diketahui benar atau tidaknya tanpa melalui penelitian sanad dan matan.
Karenanya, para ulama memperhatikan hadits dan perawinya. Mereka mengumpulkan
setiap redaksi hadits yang diriwayatkan perawi, memilahnya, menilainya, dan
memisahkan yang sahih dari yang dha’if. Dengan metode ini, hadits-hadits yang
dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bisa dibersihkan dari cela, kebohongan dan hal
buruk semisal yang disisipkan padanya.
Akan
tetapi, riwayat-riwayat terkait sejarah amat berbeda. Terkadang, kita menemukan
riwayat-riwayat yang tak bersanad. Terkadang pula, kita menemukan sanadnya
tetapi biografi para perawi riwayat itu tak ditemukan. Sering juga kita tidak
menemukan jarh (kritik) ataupun ta’dil (sanjurngan) ulama
terhadap perawinya terkait kredibilitas periwayatnnya. Alhasil, kita kesulitan
untuk menghukumi riwayat tentang sejarang tersebut dikarenakan tidak mengetahui
keadaan sebagian perawinya. Dengan kata lain, meneliti keotentikan sejarah
lebih sulit daripada keotentikan hadits. Oleh sebab itu, kita tidak boleh
menyepelekannya. Justru, kita harus mengklarifikasi dan mengetahui cara
pengambilan riwayat sejarah yang sahih.
Sunday, February 3, 2013
Pengetahuan Orang Arab Tentang Tulis-Menulis Sebelum Islam
Kita
tidak berani mengatakan bahwa sebelum Islam bangsa Arab tidak mengerti tulis
menulis dan tidak membiasakannya, karena kelangkaan sarana yang ada dan
kepercayaan mereka terhadap ingatan dalam memelihara warisan cerita serta karya
sastranya. Suatu hal yang tak dapat disangksikan, bahwa bagian utara Jazirah
Arab sudah mengenal baca-tulis. Makkah, sebagai kota perdagangan, menjadi saksi
adanya orang-orang yang dapat membaca dan menulis, lebih banyak daripada di
Madinah. Kami sungguh tidak habis fikir, bila ada yang mengabarkan bahwa di
Makkah pada waktu itu hanya terdapat beberapa puluh orang saja yang mampu
membaca dan menulis.[1][2]
Karena, kalaupun cerita
itu benar sanadnya, tentu tidak berdasarkan perhitungan secara mendetail atau
penelitian menyeluruh. Jadi, kandungan khabar itu hanyalah perkiraan
spekulatif yang tidak meyakinkan (دلالة ظنية غامضة). Hanya saja,
kita memang tidak memiliki bukti-bukti dan dalil-dalil –baik aqli maupun
naqli- yang bisa menguatkan dugaan kami akan banyaknya orang Arab pada
masa itu yang dapat membaca dan menulis.
Yang
mendorong kami berpanjang lebar membicarakan soal tulis-menulis dan keyakinan
tentang banyaknya orang yang mampu baca-tulis di Semenanjung Arab (شبه الجزيرة العربية),
hanyalah karena banyak di antara kita yang bertindak bodoh dan membabi buta
mengikuti kaum orientalis (المستشرقون) yang menganggap bahwa predikat ummiyyiin
kepada bangsa Arab dalam Qur’an [3] tidak menafikan
(meniadakan) pengetahuan baca-tulis mereka. Dan Nabi Muhammad shallallahu
alaihi wa sallam disebut ummiy karena beliau adalah Nabi orang-orang
ummiy penyembah berhala, yang
tidak membenarkan adanya rasul yang diutus Allah Ta’ala dan tidak membenarkan kitab yang Dia turunkan.
Lalu mereka menulis satu kitab dengan tangan sendiri.[4]
Subscribe to:
Posts (Atom)
