Showing posts with label TARIKH - SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label TARIKH - SEJARAH. Show all posts

Saturday, March 16, 2013

Kisah Renovasi Ka’bah dan Pengambilan Keputusan



Ketika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berusia 35 tahun, orang-orang Quraisy sepakat untuk merenovasi Ka’bah. Sebab Ka’bah itu berupa susunan batu-batu, lebih tinggi dari badan manusia, tepatnya sembilan hasta yang dibangun sejak masa Isma’il, tanpa ada atapnya, sehingga banyak pencuri yang suka mengambil barang-barang berharga yang tersimpan di dalamnya. Dengan kondisi seperti itu, bangunan Ka’bah semakin rapuh dan dingingnya pun sudah pecah-pecah. Lima tahun sebelum kenabian, Makkah dilanda banjir besar hingga meluap ke Baitul Haram, sehingga sewaktu-waktu bisa mmebuat Ka’bah menjadi runtuh. Sementara itu, orang-orang Quraisy dihinggapi perasaan bimbang antara merenovasi Ka’bah dan membiarkannya seperti apa adanya. Namun akhirnya mereka sepakat untuk tidak memasukkan bahan-bahan bangunan kecuali yang baik-baik. Mereka tidak menerima masukan dari maskawin para pelacur, jual beli dengan sistem riba dan perampasan terhadap harta orang lain. Sekalipun begitu mereka merasa takut untuk merobohkannya. Akhirnya Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumy mengawali perobohan bangunan Ka’bah, lalu diikuti semua orang, setelah tahu tidak ada sesuatu pun yang menimpa Al-Walid. Mereka terus bekerja merobohkan setiap bangunan Ka’bah, hingga sampai rukun Ibrahim. Setelah itu mereka siap membangunnya kembali.

Saturday, March 2, 2013

Penyerangan Bani Hanifah dan Perang Yamamah Pada Masa Abu Bakr


Abu Bakr radhiyallahu anh mengutus Khalid bin Al-Walid radhiyallahu anh ke daerah Yamamah untuk menyerang Bani Hanifah. Sebelumnya, sang Khalifah mengutus pasukan Ikrimah bin Abu Jahl dan Surahbil bin Hasanah radhiyallahu anhuma ke tempat yang sama. Pasukan Bani Hanifah berjumlah 4.000 personil. Ketika tiba dan bergabung bersama dua pasukan pendahulu, Khalid bin Al-Walid segera menempatkan Syurahbil bin Hasanah di barisan terdepan, Zaid bin Al-Khaththab radhiyallahu anh di sayap kanan, dan Abu Hudzaifah radhiyallahu anh di sayap kiri.

Kaum Muslimin terus bergerak maju, hingga Khalid radhiyallahu anh dan mereka berada di suatu bukit yang tinggi di Yamamah. Khalid kemudian mendirikan tenda di situ. Bendera kaum Muhajirin dipegang oleh Salim radhiyallahu anh, bekas budak Abu Hudzaifah radhiyallahu anh, sedangkan bendera kaum Anshar dipegang oleh Tsabit bin Qais radhiyallahu anh.

Peperangan pun berlangsung begitu sengit; sampai-sampai Tsabit bin Qais melubangi tanah setinggi separuh betis sebagai tempat berpijak kedua kakinya, setelah sebelumnya dia memakai minyak wangi dan mengenakan kain kafan. Saat itu, Tsabit tetap okoh berdiri hingga gugur sebagai syahid. Di tempat lain, salah seorang kaum Muhajirin bertanya kepada Salim: “Takutkah engkau jika kita diserang dari arah sini?” Pertanyaan ini dijawab, “Jika benar aku merasa takut, maka akulah penghafal Al-Qur’an yang terburuk.”

Khalid bin Al-Walid radhiyallahu anh terus menyerang hingga mendesak pasukan musuh, kemudian kembali bergabung dengan pasukan Muslim lainnya. Setelah itu, dia berdiri di antara dua pasukan dan mengajak mereka bertarung satu lawan satu. Setiap orang yang maju melawan Khalid saat itu terbunuh. Lalu di tengah peperangan yang semakin berkecamuk, Khalid memecah kaum Muhajirin, kaum Anshar, dan orang-orang Badui, lantas menjadikan setiap kabilah di bawah satu bendera, sehingga mereka tahu dari mana mereka akan diserang. Ketika itu, kaum Muslimin menghadapi perang dahsyat ini dengan kesabaran yang luar biasa.

Munculnya Sijah, Wanita Yang Mengklaim Sebagai Nabi

Di masa kekhalifahan Abu Bakr radhiyallahu anh, terjadi perbedaan sikap di kalangan Bani Tamim. Hal ini tepatnya pada masa-masa kemurtadan. Di antara mereka ada yang memang keluar dari agama Islam, ada yang hanya enggan membayar zakat, ada yang tetap memeluk Islam, dan ada pula yang ragu-ragu. Ketika itulah Sijah binti Al-Harits  At-Taghlibiyyah, seorang Nashrani Arab, datang dan mengklaim dirinya sebagai Nabi. Dia diikuti oleh bala tentara dari kaumnya dan sekutu mereka. Dengan pasukan tersebut, Sijah bertekad menyerbu Madinah. Dan ketika melewati negeri Bani Tamim, dia mengajar mereka untuk mengikutinya, dan mayoritasnya menyambut seruan itu. Sijah mengadakan perjanjian dengan mereka untuk tidak melakukan peperangan di antara sesama mereka.

Malik bin Nuwairah membelokkan tekad Sijah dari menyerang Madinah. Malik mengajaknya untuk menyerang Bani Yarbu’ dan kabilah lainnya, serta meminta Sijah supaya menunda penyerangan terhadap Madinah. Kemudian Sijah dan bala tentaranya bermaksud merebut Yamamah dari Musailamah sang pendusta. Mendengar keberangkatan pasukan Sijah, Musailamah takut karena ketika itu pasukannya sedang disibukkan oleh peperangan melawan kaum Muslimin.

Perang kecil ini terjadi di antara mereka sebelum Perang Yamamah berkecamuk. Maka, Musailamah mengutus seseorang untuk mengadakan perjanjian dengan Sijah. Lalu perjanjian dibuat dengan imbalan setengah tanah kekuasaan Musailamah akan diberikan kepada Sijah.

Setelah itu, Musailamah mengutus seseorang sebagai perantara untuk meminta Sijah menikah dengannya. Musailamah berkata, “Izinkanlah aku menikahimu. Dengan begitu, aku dapat menguasai seluruh Jazirah Arab dengan gabungan kekuatan kaumku dan kaummu.” Sijah menjawab, “Ya”. Namun, ketika mendengar kedatangan pasukan Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid radhiyallahu anh, Sijah bergegas kembali ke negerinya dan menetap di Bani Taghlib. Ada juga yang mengatakan, dia kembali memeluk Islam karenanya. (Al-Bidayah Wa An-Nihayah, VI/324)




Sumber: Hiqbah Min At-Taariikh, Syaikh Dr. Utsman Al-Khamiis
Dibantu dengan terjemahan oleh Syafaruddin, Lc.
Diketik ulang oleh Hasan Al-Jaizy



Al-Aswad Al-Ansi, Si Nabi Palsu


Al-Aswad Al-Ansi, orang yang juga dikenal dengan nama Abhalah bin Ka’ab ini mengaku dirinya sebagai Nabi dan keluar bersama 700 pasukan pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Pasukan itu pergi ke Shan’a dan menaklukkannya, sampai seluruh negeri Yaman tunduk kepada mereka. Kejahatan Al-Aswad menyebar laksana api yang menjadlar, hingga masalahnya menjadi pelik dan sulit. Banyak penduduk Yaman keluar dari agama Islam karenanya. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat, perilakunya tersebut belum berubah.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakr radhiyallahu anh, Fairuz Ad-Dailamy radhiyallahu anh membunuhnya. Ketika itu, Al-Aswadh sedang tidur dalam keadaan mabuk. Fairuz menyabet Nabi palsu ini dengan pedang sehingga suaranya melengking sekeras kuakan sapi yang pernah didengar manusia. Mendengar suara nyaring tersebut, para penjaga bersegera menuju ke kamarnya. Lantas mereka bertanya-tanya, “Ada apa ini? Apa yang terjadi?” Istri Al-Aswad –seorang wanita shalihah- menjawab: “Nabi sedang menerima wahyu.” Maka, mereka pun kembali.

Kemudian kaum Muslimin dan kaum Musyrikin yang tidak mengikuti ajaran Al-Aswad berkumpul di sekitar benteng tempatnya berada. Lalu, salah seorang kaum Muslimin berseru, “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah dan Abhalah (Al-Aswad Al-Ansi) adalah pendusta!” Orang itu lantas melemparkan kepala Abhalah ke arah orang-orang di situ. Maka, para pengikut Al-Aswad pun bercerai-berai, bahkan mereka dikejar masyarakat seraya dipukuli di setiap jalan. (Al-Bidayah wa An-Nihayah (VI/315)


Sumber: Hiqbah Min At-Taariikh, Syaikh Dr. Utsman Al-Khamiis
Dibantu dengan terjemahan oleh Syafaruddin, Lc.
Diketik ulang oleh Hasan Al-Jaizy

Friday, February 8, 2013

Abu Bakar dan Wafatnya Rasulullah




Ketika kabar wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anh baru datang dari Sanh, sebuah daerah dekat Madinah dan di tempat itulah istri Abu Bakar radhiyallahu anh, Habibah binti Kharijah tinggal. Kemudian, ia membuka penutup wajah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan mencium kening beliau seraya berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan, engkau adalah orang suci baik ketika masih hidup maupun setelah wafat.”

Abu Bakar menutup wajah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian berdiri dan naik ke atas mimbar, lalu menyadarkan orang-orang:

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ اللهَ فَإِنَّ اللهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ

“Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwasanya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa di antara kalian yang menyembah Allah, maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Hidup, takkan pernah mati.”

Lalu, ia membacakan firman Allah:

Wednesday, February 6, 2013

Peristiwa Penggalian Sumur Zamzam



Ketika Abdul Muththalib (kakek Nabi Muhammad) tidur di Hijir Ismail, ia bermimpi diperintah untuk menggali sumur Zamzam. Abdul Muththalib menuturkan kisahnya. Begini kisahnya:

“Ketika aku sedang tidur di Hijir Ismail, tiba-tiba dalam mimpi aku didatangi oleh seseorang dan berkata kepadaku: “Galilah Thiibah!”


“Apa itu Thiibah?” kataku. Kemudian orang itu menghilang!


Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat semula. Dalm tidur aku kembali bermimpi didatangi seseorang dan berkata, “Galilah Madhhuunah!”

“Apa itu Madhuunah?” kataku. Ornag itu kembali menghilang.

Esoknya aku kembali tidur di situ. Dalam tidur aku bermimpi seperti malam kemarin. Seseorang datang kepadaku dan berkata, “Galilah Zamzam!”

“Apa itu Zamzam?” kataku.

“Yaitu sumur yang tiada terkuras habis dan tiada mengering, memberi minum para jama’ah haji yang datang berduyun-duyun. Letaknya di antara kotoran dan tanah[1], dekat patukan gagak a’sham[2],”sahutnya.

Cara Sejarawan Mendistorsi Sejarah


Cara Sejarawan Mendistorsi Sejarah

Berikut akan saya kemukakan beberapa cara atau metode yang digunakan para sejarawan dalam mendistorsi peristiwa-peristiwa penting seputar sejarah umat Islam.
1. Membuat-buat Cerita dan Berbohong
Para sejarawan mengarang kisah yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Contohnya, mereka menceritakan perihal Aisyah radhiyallahu anha yang bersujud syukur kepada Allah Ta’ala ketika menerima kabar tentang terbunuhnya Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anh. Penuturan peristiwa ini bohong belaka.[1]
2. Menambah atau Mengurangi Suatu Kisah
Yang berbeda dalam hal ini adalah kisah yang disampaikan sahih, seperti peristiwa Saqifah. Cerita tentang Saqifah ini memang benar: Bahwasanya terjadi pertemuan antara Abu Bakr, Umar, dan Abu Ubaidah dari kalangan Muhajirin di satu sisi; dan Al-hubab bin Al-Mundzir, Sa’ad bin Ubadah, serta sahabat dari kalangan Anshar lainnya di sisi yang lain. Para sejarawan menambahkan atau mengurangi banyak hal dengan tujuan mendistorsi kejadian yang sebenarnya.
3. Menginterpretasi Suatu Kejadian secara Tidak Benar

Tuesday, February 5, 2013

Kitab Induk Sejarah: TAARIIKH ATH-THABARY

Taariikh Ath-Thabary adalah kitab terpenting dalam sejarah Islam. Sering sekali penulis sejarah mengutip berbagai peristiwa darinya. Ahlus Sunnah dan Ahli Bid’ah mengutip dan berdalil dengan kitab ini. Lantas, mengapa kitab ini lebih didahulukan daripada kitab-kitab sejarah lainnya?

Menurut saya (Syaikh Utsmaan Al-Khamiis), didahulukannya kitab tersebut didasarkan pada fakta-fakta berikut:

1. Dekatnya zaman penyusunnya, yaitu Imam Ath-Thabary, dengan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh para sahabat.

2. Penyusun meriwayatkan semuanya dengan sanad.

3. Kemuliaan penyusun dan tingkat keilmuannya

4. Mayoritas kitab sejarah mengutip riwayat-riwayat darinya.

Jika kandungan kitab Taariikh Ath-Thabary demikian unggul, maka kita bisa saja langsung merujuk pada kitab beliau ketika ingin membaca sejarah tanpa melihat kitab-kitab sejarah lin yang menginduk kepadanya. Akan tetapi, tidak hanya Ahlus Sunnah yang merujuk pada kitab tersebut, tetapi juga para ahli bid’ah yang mengambil apa-apa yang sesuai dengan madzhab mereka. Nah, bagaimanakah sebaiknya menyikapi dua hal yang berlawanan itu? Jawabannya masih terkait dengan keistimewaan kitab sejarah ini, yakni semua peristiwa sejarah yang dinukilkan di dalamnya disertai sanad; jadi kalangan Ahlus Sunnah mengambil sanad Ath-Thabary yang sahih saja, sedangkan ahli bid’ah mengambil semua riwayat baik yang sahih, yang baik, maupun yang buruk, yang penting sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Sumber: Hiqbah Min At-Taariikh, Syaikh Dr. Utsman Al-Khamiis
Dibantu dengan terjemahan oleh Syafaruddin, Lc.
Ditulis dan ditata ulang oleh Hasan Al-Jaizy


Kitab Sejarah Yang Layaknya Dibaca


Kitab sejarah siapa yang sebaiknya dibaca?

Jawabannya adalah jika Anda mampu menganalisa sanad dan menelitinya, maka bacalah kitab Imam Ath-Thabary (Taariikh Ath-Thabary). Kitab beliau ini adalah pegangan bagi para ulama yang menulis kitab sejarah.

Sedangkan jika Anda tidak mampu menganalisa dan meneliti sanad, maka bacalah: 

(1) kitab Al-Hafizh Ibnu Katsiir, Al-Bidaayah wa An-Nihaayah (الْبِدَايَةُ وَالنِّهَايَةُ)

(2) kitab Al-Hafizh Adz-Dzahaby, Taariikh Al-Islaam (تَارِيخُ الْإِسْلَامِ)

(3) kitab Al-Allaamah Abu Bakr Ibnul Araby, Al-Awaashim min Al-Qawaashim (الْعَوَاصِمُ مِنَ الْقَوَاصِمِ), yakni kitab terbaik di antara kitab-kitab lainnya yang membahas periode sejarah pasca wafatnya Nabi hingga terbunuhnya AL-Husain.

Di antara kitab-kitab atau buku-buku sejarah lain yang bermanfaat dan ringkas namun bernas, adalah:

Kitab-kitab Sejarah Yang Perlu Diwaspadai!


Berikut beberapa kitab sejarah yang harus diwaspadai:

1. Al-Aghaany (الْأَغَانِي) karya Abu Al-Faraj Al-Ashbahaany. Kitab ini berisi obrolan, syair, dan nyanyian yang dicampuri berita-berita tidak benar.

2. Al-Iqd Al-Fariid (الْعِقْدُ الْفَرِيدُ) karya Ibnu Abdi Rabbih. Kitab sastra ini banyak memuat nukilan-nukilan palsu.

3. Al-Imaamah wa As-Siyaasah (الْإِمَامَةُ وَالسِّيَاسَةُ) yang dinisbatkan kepada Ibnu Qutaibah rahimahullah, tetapi penisbatan ini adalah dusta belaka.

4. Muruuj Adz-Dzahab (مُرُوجُ الذَّهَبِ) atau Taariikh Al-Mas’uudy karya Al-Mas’udy. Kisah-kisah yang dituturkan di dalam kitab ini tidak bersanad. Ibnu Taimiyyah rahimahullah bahkan mengomentarinya: “Dalam kitab Taariikh Al-Mas’uudy terdapat banyak kebohongan. Saking banyaknya, sampai-sampai tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah Ta’ala. Bagaimana mungkin riwayat dengan sanad terputus dalam sebuah kitab yang terkenal banyak dustanya itu bisa dipercaya?!”[1]

Al-Haafidz Ibnu Hajar Al-Asqalaany juga berkomentar:

Bagaimana Kita Membaca Sejarah?


Kita harus membaca sejarah seperti halnya membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Tatkala hendak membaca hadits-hadits beliau, tentu saja kita mengklarifikasi riwayatnya terlebih dahulu; apakah sanadnya sahih, atau tidak? Tidak mungkin riwayat dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diketahui benar atau tidaknya tanpa melalui penelitian sanad dan matan. Karenanya, para ulama memperhatikan hadits dan perawinya. Mereka mengumpulkan setiap redaksi hadits yang diriwayatkan perawi, memilahnya, menilainya, dan memisahkan yang sahih dari yang dha’if. Dengan metode ini, hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  bisa dibersihkan dari cela, kebohongan dan hal buruk semisal yang disisipkan padanya.

Akan tetapi, riwayat-riwayat terkait sejarah amat berbeda. Terkadang, kita menemukan riwayat-riwayat yang tak bersanad. Terkadang pula, kita menemukan sanadnya tetapi biografi para perawi riwayat itu tak ditemukan. Sering juga kita tidak menemukan jarh (kritik) ataupun ta’dil (sanjurngan) ulama terhadap perawinya terkait kredibilitas periwayatnnya. Alhasil, kita kesulitan untuk menghukumi riwayat tentang sejarang tersebut dikarenakan tidak mengetahui keadaan sebagian perawinya. Dengan kata lain, meneliti keotentikan sejarah lebih sulit daripada keotentikan hadits. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menyepelekannya. Justru, kita harus mengklarifikasi dan mengetahui cara pengambilan riwayat sejarah yang sahih.

Sunday, February 3, 2013

Pengetahuan Orang Arab Tentang Tulis-Menulis Sebelum Islam


Kita tidak berani mengatakan bahwa sebelum Islam bangsa Arab tidak mengerti tulis menulis dan tidak membiasakannya, karena kelangkaan sarana yang ada dan kepercayaan mereka terhadap ingatan dalam memelihara warisan cerita serta karya sastranya. Suatu hal yang tak dapat disangksikan, bahwa bagian utara Jazirah Arab sudah mengenal baca-tulis. Makkah, sebagai kota perdagangan, menjadi saksi adanya orang-orang yang dapat membaca dan menulis, lebih banyak daripada di Madinah. Kami sungguh tidak habis fikir, bila ada yang mengabarkan bahwa di Makkah pada waktu itu hanya terdapat beberapa puluh orang saja yang mampu membaca dan menulis.[1][2]

Karena, kalaupun cerita itu benar sanadnya, tentu tidak berdasarkan perhitungan secara mendetail atau penelitian menyeluruh. Jadi, kandungan khabar itu hanyalah perkiraan spekulatif yang tidak meyakinkan (دلالة ظنية غامضة). Hanya saja, kita memang tidak memiliki bukti-bukti dan dalil-dalil –baik aqli maupun naqli­- yang bisa menguatkan dugaan kami akan banyaknya orang Arab pada masa itu yang dapat membaca dan menulis.

Yang mendorong kami berpanjang lebar membicarakan soal tulis-menulis dan keyakinan tentang banyaknya orang yang mampu baca-tulis di Semenanjung Arab (شبه الجزيرة العربية), hanyalah karena banyak di antara kita yang bertindak bodoh dan membabi buta mengikuti kaum orientalis (المستشرقون)  yang menganggap bahwa predikat ummiyyiin kepada bangsa Arab dalam Qur’an [3] tidak menafikan (meniadakan) pengetahuan baca-tulis mereka. Dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam disebut ummiy karena beliau adalah Nabi orang-orang ummiy  penyembah berhala, yang tidak membenarkan adanya rasul yang diutus Allah Ta’ala  dan tidak membenarkan kitab yang Dia turunkan. Lalu mereka menulis satu kitab dengan tangan sendiri.[4]