Showing posts with label SIRAH NABI - Pra Wahyu. Show all posts
Showing posts with label SIRAH NABI - Pra Wahyu. Show all posts

Saturday, March 16, 2013

Ramalan Dukun-dukun Arab, Rahib-rahib Yahudi dan Pendeta-pendeta Nasrani



Rahib-rahib Yahudi, pendeta-pendeta Nasrani dan dukun-dukun Arab ramai membincangkan kedatangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebelum beliau diangkat menjadi rasul karena zaman kemunculannya sudah dekat. Rahib-rahib Yahudi dan pendeta-pendeta Nasrani itu mengetahuinya dari buku-buku mereka yang menceritakan tentang karakteristik beliau dan kondisi zaman kemunculannya. Dan juga dari janji-janji nabi mereka kepada mereka. Sementara dukun Arab mengetahui hal itu dari setan-setan bangsa jin yang kerapkali mendatangi mereka dengan membawa berita-berita yang mereka sadar dari langit. Sebab mustahil mereka mengetahuinya hanya dari ilmu nujum. Dukun-dukun itu membicarakan beberapa perihal beliau namun sepertinya orang-orang Arab tidak begitu peduli. Hingga akhirnya Allah mengutus beliau shallallahu alaihi wa sallam dan terjadilah beberapa perkara seperti yang dikabarkan oleh dukun-dukun itu, barulah mereka meyakininya!

Ketika zaman kemunculan beliau semakin dekat dan sudah tiba waktunya, setan-setan terhijab dari berita-berita langit, mereka terhalang dari tempat-tempat pengintaian yang biasa mereka duduki untuk menyadap berita langit, mereka dilempar dengan meteor. Bangsa jin mengetahui bahwa akan terjadi suatu perkara yang akan diturunkan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Sumber: Tahdziib Sirah Ibnu Hisyaam, Abd As-Salam Harun
Ditulis ulang oleh Hasan Al-Jaizy


Kisah Renovasi Ka’bah dan Pengambilan Keputusan



Ketika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berusia 35 tahun, orang-orang Quraisy sepakat untuk merenovasi Ka’bah. Sebab Ka’bah itu berupa susunan batu-batu, lebih tinggi dari badan manusia, tepatnya sembilan hasta yang dibangun sejak masa Isma’il, tanpa ada atapnya, sehingga banyak pencuri yang suka mengambil barang-barang berharga yang tersimpan di dalamnya. Dengan kondisi seperti itu, bangunan Ka’bah semakin rapuh dan dingingnya pun sudah pecah-pecah. Lima tahun sebelum kenabian, Makkah dilanda banjir besar hingga meluap ke Baitul Haram, sehingga sewaktu-waktu bisa mmebuat Ka’bah menjadi runtuh. Sementara itu, orang-orang Quraisy dihinggapi perasaan bimbang antara merenovasi Ka’bah dan membiarkannya seperti apa adanya. Namun akhirnya mereka sepakat untuk tidak memasukkan bahan-bahan bangunan kecuali yang baik-baik. Mereka tidak menerima masukan dari maskawin para pelacur, jual beli dengan sistem riba dan perampasan terhadap harta orang lain. Sekalipun begitu mereka merasa takut untuk merobohkannya. Akhirnya Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumy mengawali perobohan bangunan Ka’bah, lalu diikuti semua orang, setelah tahu tidak ada sesuatu pun yang menimpa Al-Walid. Mereka terus bekerja merobohkan setiap bangunan Ka’bah, hingga sampai rukun Ibrahim. Setelah itu mereka siap membangunnya kembali.

Thursday, March 7, 2013

Kisah Pengangkatan Muhammad Sebagai Rasulullah



Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah berusia 40 tahun, Allah mengutusnya menjadi rasul-Nya sebagai rahmat bagi sekalian alam yang diutus kepada segenap umat manusia dan sebagai pembawa kabar gembira. Sebelumnya Allah Ta’ala telah mengambil perjanjian dari tiap-tiap rasul yang diutus sebelum beliau agar beriman kepada beliau dan membenarkannya, membelanya terhadap siapa saja yang menentangnya. Allah juga telah memerintahkan mereka supaya menyampaikannya kepada setiap orang yang beriman dan membenarkan mereka. Lalu mereka pun menyampaikan kebenaran yang mereka ketahui tentang rasul akhir zaman itu kepada umat manusia.
 

Tuesday, March 5, 2013

Islamkah Orang Tua Nabi -Shallallahu Alaihi Wa Sallam-?


 HADITS:


عن عائشة قالت: حج بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حجة الوداع فمر بي على عقبة الحجون، وهو باك حزين مغتم، فنزل فمكث عني طويلاً ثم عاد إلي وهو فرح مبتسم، فقلت له؟ فقال: ذهبت لقبر أمي فسألت الله يحييها فأحياها فآمنت بي وردها الله

Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata: “Pada saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan haji bersama kami, beliau bertemu denganku di Aqabah Hajun sambil menangis sedih, lalu beliau turun dan tinggal cukup lama kemudian kembali lagi kepadaku dengan gembira dan senyum, maka aku tanyakan hal itu padanya, lalu beliau menjawab, “Aku pergi ke kuburan ibuku, lalu aku memohon kepada Allah agar menghidupkannya, kemudian ibuku beriman kepadaku, lalu Allah mematikannya kembali.”

MAUDHU’ (PALSU). Diriwayatkan Ibnu Syahin dalam An-Naasikh wa Al-Mansuukh, no. 656, Al-Jauraqany dalam Al-Abaathil wa Al-Manaakir (I/222), Ibnul Jauzy dalam Al-Maudhuu’aat (I/283-284)

Ibnul Jauzy berkata, “Maudhu’ tanpa diragukan lagi! Ibunda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat di kota Abwa antara kota Madinah dan Makkah seta dikubur di sana, bukan di Hajun!”

Al-Jauraqany berkata, “Hadits ini bathil!”

Imam Adz-Dzahaby berkata, “Hadits ini dusta dan bertentangan dengan hadits shahih bahwa beliau meminta izin kepada Rabb-nya untuk memintakan ampun untuk ibunya tetapi Allah tidak mengizinkannya.”[1]

Sunday, February 10, 2013

Sifat Rasulullah Dalam Injil!


Ibnu Ishaq berkata: “Di antara berita yang sampai kepadaku tentang sifat-sifat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang dijelaskan Nabi Isa bin Maryam di dalam Injil kepada Ahli Injil yang telah disebutkan oleh Yohannes, salah seorang Hawary yang menyalin Injil dari zaman Isa bin Maryam, bahwasanya ia berkata:

“Barangsiapa membuatku marah, berarti ia telah membuat Allah murka. Sekiranya aku tidak melakukan beberapa perkara di hadapan mereka yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun sebelumku niscaya mereka tidak jatuh dalam kesalahan. Tetapi ada beberapa ayat yang mereka tolak sementara mereka mengira telah mengalahkanku dan mengalahkan Ar-Rabb! Tetapi firman ilahi di dalam Namus ini harus disempurnakan. Mereka marah kepadaku secara keji karena kedatangan seorang Al-Munhamanna yang diutus Allah kepada jalian. Ruhul Quds (Jibril) yang berada di sisi Allah telah keluar, dia akan menjadi saksi atas diriku dan atas diri kalian juga. Sebab dahulu kalian selalu menyertaiku.  Hal ini kukatakan kepada kalian agar kalian tak ragu!” (Silahkan lihat INJIL YOHANA 15: 23-26

Al-Munhanmanna dalam bahasa Siryaniyyah berarti Muhammad, dalam bahasa Romawi disebut Al-Baraqliths.

------------------------------------

Sumber: Tahdziib Sirah Nabawiyyah Ibnu Hisyam, Abdus Salam Harun
diterjemahkan oleh Abu Ihsan Al-Atsary
ditulis ulang oleh Hasan Al-Jaizy

Thursday, February 7, 2013

Tentang Abdullah, Bapaknya Rasulullah


Dia adalah bapak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Abdullah adalah anak Abdul Muththalib yang paling bagus dan paling dicintainya. Abdullah inilah yang mendapat undian untuk disembelih dan dikorbankan sesuai dengan nadzar Abdul Muththalib. Ringkasnya, tatkala anak-anaknya sudah berjumlah sepuluh orang dan tahu bahwa ia tak lagi mempunyai anak, maka dia memberitahukan nadzar yang pernah diucapkannya kepada anak-anaknya. Ternyata mereka patuh. Kemudian dia menulis nama-nama mereka di anak panah untuk diundi, lalu diserahkan ke patung Hubal. Setelah anak-anak panah itu dikocok, keluarlah nama Abdullah. Maka Abdul Muththalib menuntun Abdullah sambil membawa parang, berjalan menuju Ka’bah untuk menyembelih anaknya itu. Namun orang-orang Quraisy mencegahnya, terutama paman-pamannya dari pihak ibu dari Bani Makhzum dan saudaranya Abu Thalib.

“Kalau begitu apa yang harus kulakukan sehubungan nazarku ini?” tanya Abdul Muththalib kebingungan.

Mereka mengusulkan untuk menemui seorang dukun perempuan. Maka ia menemuinya. Sesampainya di tempat dukun itu, dia diperintah untuk mengundi Abdullah dengan 10 ekor unta. Jika yang keluar nama Abdullah, maka dia harus menambahi lagi dengan 10 ekor unta, hingga Tuhan ridha. Jika yang keluar nama unta, maka unta-unta itulah yang disembelih. Maka dia keluar dari tempat dukun wanita itu dan mengundi antara nama Abdullah dan 10 ekor unta.

Nasab Nabi



Ada tiga bagian tentang nasab Nabi shallallahu alaihi wa sallam:


1. Bagian yang disepakati kebenarannya oleh para pakar biografi dan nasab, yaitu sampai Adam.
2. Bagian yang mereka perselisihkan, yaitu antara nasab yang tidak diketahui secara pasti dan nasab yang harus dibicarakan, tepatnya Adnan ke atas hingga Ibrahim alaihissalam.
3. Bagian yang sama sekali tidak kita ragukan bahwa di dalamnya ada hal-hal yang tidak benar, yaitu Ibrahim ke atas hingga Adnan.

Bagian Pertama: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib (yang namanya Syaibah) bin Hasyim (yang namanya Amru) bin Abdu Manaf (yang namanya Al-Mughirah) bin Qushay (yang namanya Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (yang berjuluk Quraisy dan menjadi cikal bakal nama kabilah) bin Malik bin An-Nadhr (yang namanya Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (yang namanya Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.[1]

Bagian kedua: Adnan dan seterusnya, yaitu Ud, bin Hamaisa’ bin Salaman bin Aush bin Bauz bin Qimwal bin Ubay bin Awwam bin Nasyid bin Haza bin Baldas bin Yadlaf bin Thabikh bin Jahim bin Nahisy bin Makhy bin Aidh bin Abqar bin Ubaid bin Ad-Da’a bin Hamdan bin Sinbar bin Yatsriby bin Yahzan bin Yalhan bin Ar’awy bin Aidh bin Daisyan bin Aishar bin Afnad bin Aiham bin Muqshir bin Nahits binZarih bin Sumay bin Muzay bin Iwadhah bin Aram bin Qaidar bin Isma’il bin Ibrahim.[2]

Bagian Ketiga: Ibrahim dan seterusnya, yaitu bin Tarih (yang namanya Azar), bin Nahur bin Saru’ atau Sarugh bin Ra’u bin Falakh bin Aibar bin Syalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nih alaihissalam bin Lamk bin Matausyalakh bin Akhnukh bin Idris alaihissalam bin Yard bin Mahla’il bin Qainan bin Yanisha bin Syaits bin Adam alaihissalam.


[1] Sirah An-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, 1/1-2; Rahmah li Al-Aalamiin, 2/11-14, 52
[2] Al-Allamah Muhammad Sulaiman Al-Manshurfury telah menghimpun bagian dari nasab ini berdasarkan riwayat Al-Kalby dan Ibnu Sa’ad, setelah mengadakan penelitian yang mendetail. Lihat Rahmah li Al-Aalamiin, 2/14-17. Ada perbedaan pendapat yang mencolok tentang masalah ini di berbagai referensi sejarah.

Sumber: Ar-Rahiiq Al-Makhtuum, Syaik Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury\
Penerjemah: Kathur Suhardi

ditulis dan ditata ulang oleh Hasan Al-Jaiyz