Showing posts with label [KITAB]. Show all posts
Showing posts with label [KITAB]. Show all posts

Tuesday, February 5, 2013

Metode Penulisan Sejarah Dalam Kitab Taariikh Ath-Thabary


Imam Ath-Thabary rahimahullah menerangkan sendiri metodenya dalam pencatatan sejarah melalui muqaddimah ada awal kitab tersebut. Maka alangkah baiknya apabila orang yang membaca kitab ini juga membaca muqaddimah-nya. Bahkan, semestinya orang yang ingin membaca suatu kitab membaca muqaddimah-nya terlebih dahulu agar mengetahui metode yang ditempuh penulisnya.

Imam Ath-Thabary rahimahullah dalam muqadiimah Taariikh-nya menulis;

وَلْيَعْلَمِ النَّاظِرُ فِي كِتَابِنَا هَذَا أَنَّ اعْتِمَادِي فِي كُلِّ مَا أَحْضَرْتُ ذِكْرَهُ فِيهِ مِمَّا شَرَطْتُ أَنِّي رَاسِمُهُ فِيهِ، إِنَّمَا هُوَ عَلَى مَا رُوِّيتُ مِنَ الْأخْبَارِ الَّتِي أَنَا ذَاكِرُهَا فِيهِ وَالْآثَارِ الَّتِي أَنَا مُسْنِدُهَا إِلَى رُوَاتِهَا، فَمَا يَكُنْ فِي كِتَابِي هَذَا مِنْ خَبَرٍ ذَكَرْنَاهُ عَنْ بَعْضِ الْمَاضِينَ، مِمَّا يَسْتَنْكِرُهُ قَارِئُهُ، أَوْ يَسْتَشْنِعُهُ سَامِعُهُ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ لَمْ يَعْرِفْ لَهُ وَجْهًا فِي الصِّحَّةِ، وَلَا مَعْنًى فِي الْحَقِيقَةِ؛ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يُؤْتَ فِي ذَلِكَ مِنْ قِبَلِنَا، وَإِنَّمَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ بَعْضِ نَاقِلِيهِ إِلَيْنَا، إِنَّمَا أَدَّيْنَا ذَلِكَ عَلَى نَحْوِ مَا أُدِّيَ إِلَيْنَا

“Orang yang membaca kitab ini hendaknya mengetahui bahwa sandaran saya dalam menyebutkan segalanya yang diketengahkan di sini, yakni semua yang saya tulisa adalah berdasarkan khabar-khabar (hadits-hadits) yang saya riwayatkan sendiri serta atsar-atsar yang saya sandarkan kepada para perawinya. Jika di dalam kitab ini didapat cerita perihal orang-orang terdahulu, kemudian diingkari pembacanya atau dicela pendengarnya karena sama sekali jauh dari kesahihan, maka hendaknya dicamkan bahwa kekeliruan ini tidaklah datang dari kami, tetapi dari sebagian perawinya. Sebab, kami hanya menukilkannya sebagaimana apa yang disampaikan kepada kami.”[1]

Kitab Induk Sejarah: TAARIIKH ATH-THABARY

Taariikh Ath-Thabary adalah kitab terpenting dalam sejarah Islam. Sering sekali penulis sejarah mengutip berbagai peristiwa darinya. Ahlus Sunnah dan Ahli Bid’ah mengutip dan berdalil dengan kitab ini. Lantas, mengapa kitab ini lebih didahulukan daripada kitab-kitab sejarah lainnya?

Menurut saya (Syaikh Utsmaan Al-Khamiis), didahulukannya kitab tersebut didasarkan pada fakta-fakta berikut:

1. Dekatnya zaman penyusunnya, yaitu Imam Ath-Thabary, dengan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh para sahabat.

2. Penyusun meriwayatkan semuanya dengan sanad.

3. Kemuliaan penyusun dan tingkat keilmuannya

4. Mayoritas kitab sejarah mengutip riwayat-riwayat darinya.

Jika kandungan kitab Taariikh Ath-Thabary demikian unggul, maka kita bisa saja langsung merujuk pada kitab beliau ketika ingin membaca sejarah tanpa melihat kitab-kitab sejarah lin yang menginduk kepadanya. Akan tetapi, tidak hanya Ahlus Sunnah yang merujuk pada kitab tersebut, tetapi juga para ahli bid’ah yang mengambil apa-apa yang sesuai dengan madzhab mereka. Nah, bagaimanakah sebaiknya menyikapi dua hal yang berlawanan itu? Jawabannya masih terkait dengan keistimewaan kitab sejarah ini, yakni semua peristiwa sejarah yang dinukilkan di dalamnya disertai sanad; jadi kalangan Ahlus Sunnah mengambil sanad Ath-Thabary yang sahih saja, sedangkan ahli bid’ah mengambil semua riwayat baik yang sahih, yang baik, maupun yang buruk, yang penting sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Sumber: Hiqbah Min At-Taariikh, Syaikh Dr. Utsman Al-Khamiis
Dibantu dengan terjemahan oleh Syafaruddin, Lc.
Ditulis dan ditata ulang oleh Hasan Al-Jaizy


Kitab Sejarah Yang Layaknya Dibaca


Kitab sejarah siapa yang sebaiknya dibaca?

Jawabannya adalah jika Anda mampu menganalisa sanad dan menelitinya, maka bacalah kitab Imam Ath-Thabary (Taariikh Ath-Thabary). Kitab beliau ini adalah pegangan bagi para ulama yang menulis kitab sejarah.

Sedangkan jika Anda tidak mampu menganalisa dan meneliti sanad, maka bacalah: 

(1) kitab Al-Hafizh Ibnu Katsiir, Al-Bidaayah wa An-Nihaayah (الْبِدَايَةُ وَالنِّهَايَةُ)

(2) kitab Al-Hafizh Adz-Dzahaby, Taariikh Al-Islaam (تَارِيخُ الْإِسْلَامِ)

(3) kitab Al-Allaamah Abu Bakr Ibnul Araby, Al-Awaashim min Al-Qawaashim (الْعَوَاصِمُ مِنَ الْقَوَاصِمِ), yakni kitab terbaik di antara kitab-kitab lainnya yang membahas periode sejarah pasca wafatnya Nabi hingga terbunuhnya AL-Husain.

Di antara kitab-kitab atau buku-buku sejarah lain yang bermanfaat dan ringkas namun bernas, adalah:

Kitab-kitab Sejarah Yang Perlu Diwaspadai!


Berikut beberapa kitab sejarah yang harus diwaspadai:

1. Al-Aghaany (الْأَغَانِي) karya Abu Al-Faraj Al-Ashbahaany. Kitab ini berisi obrolan, syair, dan nyanyian yang dicampuri berita-berita tidak benar.

2. Al-Iqd Al-Fariid (الْعِقْدُ الْفَرِيدُ) karya Ibnu Abdi Rabbih. Kitab sastra ini banyak memuat nukilan-nukilan palsu.

3. Al-Imaamah wa As-Siyaasah (الْإِمَامَةُ وَالسِّيَاسَةُ) yang dinisbatkan kepada Ibnu Qutaibah rahimahullah, tetapi penisbatan ini adalah dusta belaka.

4. Muruuj Adz-Dzahab (مُرُوجُ الذَّهَبِ) atau Taariikh Al-Mas’uudy karya Al-Mas’udy. Kisah-kisah yang dituturkan di dalam kitab ini tidak bersanad. Ibnu Taimiyyah rahimahullah bahkan mengomentarinya: “Dalam kitab Taariikh Al-Mas’uudy terdapat banyak kebohongan. Saking banyaknya, sampai-sampai tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah Ta’ala. Bagaimana mungkin riwayat dengan sanad terputus dalam sebuah kitab yang terkenal banyak dustanya itu bisa dipercaya?!”[1]

Al-Haafidz Ibnu Hajar Al-Asqalaany juga berkomentar: